HERAKLIUS


Ini cerita tentang Heraklius, seorang Raja Romawi sekitar 629 Masehi
Sang Raja mengundang Abu Sufyan yang sedang berdagang di Jerusalem. Menanyainya mengenai beberapa hal sebagai konfirmasi.

“Aku bertanya kepadamu tentang nasab lelaki itu di antara kalian. Engkau mengatakan bahwa Muhammad memiliki nasab yang mulia, orang terpandang. Memang demikian, para nabi yang diutus di tengah-tengah kaumnya selalu berasal dari nasab-nasab yang tinggi.”
“Kemudian aku tanyakan kepadamu apakah ada orang – orang sebelumnya yang telah mengklaim bahwa dirinya adalah seorang nabi? Engkau mengatakan ‘tidak pernah ada’. Memang demikianseharusnya seorang nabi. Apabila ada sebelumnya di antara keluarganya yang menyatakan perkataan tersebut, bisa aja Muhammad hanya ikut-ikutan mengklaom dirinya sebagai seorang nabi.”
“Kemudian aku bertanya padamu, apakah dia keturunan raja? Engkau menyatakan, ‘tidak’. Memang seharusnya begitu. Sebab sekiranya ada bapak atau kakeknya adalah seorang raja, mungkin saja Muhammad mengucapkan perkataan tersebut hanya ingin mencari kerajaan ataupun kekuasaan nenek moyangnya.”
“Aku kemudian bertanya kepada engkau, apakah sebelum ia mengaku sebagai seorang nabi, kalian menuduhnya berdusta? Engkau menjawab ‘tidak’. Aku sungguh tahu bahwa seorang nabi itu tidak akan pernah berdusta kepada manusia apalagi berdusta atas nama Tuhan.”
“Aku bertanya kepadamu tentang pengikut-pengikutnya. Apakah pengikutnya itu adalah pembesar-pembesar dan pejabat? Engkau menjawab bahwa pengikutnya adalah orang-orang lemah dan miskin. Sejak dahulu memang begitu pengikut para nabi. Pengikut mereka berasal dari kalangan orang-orang lemah dan miskin.”
“Kemudian aku bertanya apakah pengikut Muhammad semakin bertambah atau berkurang, dan engkau memastikan pengikutnya semakin bertambah. Memang seperti itu pengikut para nabi. Mereka akan semakin bertambah dan bertambah terus sampai menjadi sempurna.”
“Aku bertanya apakah ada di antara mereka yang keluar dari agama Muhammad karena membenci agamanya? Engkau katakana ‘tidak’. Seperti itulah iman. Kalau sudah bersatu dengan hati tidak akan bisa keluar lagi.”
Aku tanyakan kepada engkau, apakah dia pernah berkhianat? Engkau menyatakan ‘tidak’. Demikianlah para Rosul-Rosul Allah. Mereka tidak ada yang pernah berkhianat.”
Aku menanyakan kepadamu, apa yang dia perintahkan untuk kepada kalian? Engkau berkata bahwa dia memerintahkan untuk beribadah kepada Allah semata dan melarang kalian untuk melakukan perbuatan menyekutukan Tuhan. Dia pun mengajak kalian untuk melaksanakan ibadah shalat, bersikap jujur, bersikap penuh kehormatan, dan menyambung silaturahmi.”
Jika yang engkau terangkan itu betul semuanya, niscaya dia akan memerintah sampai ke tempat kedua telapak kakiku ini berpijak.
“Sesungguhnya aku telah tahu bahwa ia akan lahir. Tetapi aku tidak mengira bahwa dia akan lahir di antara kalian. Sekiranya aku yakin akan dapat bertemu dengannya, walaupun dengan susah payah.. aku akan berusaha datang menemuinya. Kalau aku telah berada di dekatnya, aku akan membasuh kedua telapak kakinya.”
Membasuh kedua kaki Muhammad!! Raja seagung Heraklius memuliakan orang yang begitu banyak dihina dan direndahkan oleh kaumnya di kota kelahiran-Makkah.  Muhammad, apakah benar engkau akan menjadi raja dunia? (Muhammad-Lelaki Penggenggam Hujan, 451, Tasaro GK)

Ya Nabi, maafkanlah umatmu ini yang tak mengindahkan sunahmu bahkan sudah meninggalkan ajaranmu. 
Ya Nabi, Jika kisahmu diulang seribu tahun setelah kepergianmu, maka mereka yang mencintaimu akan merasakan kehilangan yang sama dengan para sahabat yang menyaksikan hari terakhirmu, wahai, Lelaki yang Cintanya Tak Pernah Berakhir. Mereka membaca kisahmu, ikut tersenyum bersamamu, bersedih karena penderitaanmu, membuncah bangga oleh keberhasilanmu, dan berair mata ketika mendengar berita kepergianmu. Seolah engkau kemarin ada di sini, dan esok tiada lagi.”


Ya Nabi, bila di jaman sekarang yang disebut modern, untuk melihatmu dan para tentaramu 20 km aku harus berjalan, aku pasti akan lakukan. Membaca buku ini, mengingatkanku akan dirimu, sejauh mana aku mengenal, memahami dan mencintaimu wahai Kekasih Allah? Begitu rindu akan kedatanganmu. Begitu rindu akan suara emasmu yang membakar semangat jiwa-jiwa yang beriman. 
Jiwa-jiwa yang kering, yang mudah terbawa arus angin, Haus akan kasihmu dan keberadanmu diantara kami. 


ini buku keduanya. :)

Komentar

Postingan Populer