Separuh Mati

Saumpama layang-layang, putus sudah benang gelasan. Engkau mengangkasa tanpa tali. Seperti semua orang yang putus asa di dunia. Kemarin-kemarin engkau membabat apa-apa yang menyambungkanmu dengan dirinya. Men-delete nomor ponselnya, menghapus pertemanan di facebook, meng-abu-kan lembar-lembar surat dan macam-macam barang yang dihadiahkan.
Sudah tak ada lagi pembicaraan, kecuali dia lebih dulu menghubungimu. Itu pun lewat nomor yang tak dikenal di layar teleponmu. Sehingga setiap muncul nomor asing di sana, engkau mengiba-iba dalam hati, semoga itu pesan darinya..panggilan teleponnya.
Seperti berharap Jakarta bebas dari kemacetan, atau bermimpi para koruptor benar-benar dibuang ke kolong bui. Kenyataanya terlalu jauh dari angan-angan. Teleponnya tak pernah mampir, SMS pun tampaknya tak pernah terpikir.
Sewaktu dulu dia mengabarimu bahwa dia akan segera dipinang anak orang, bukan cemburu yang membakar jantungmu. Engkau sudah hafal bukan, bagaimana caramu menempatkan dia dalam degup dadamu? Tak pernah akan ada seorang laki-laki manapun yang sanggup membuatmu cemburu. Dia boleh menikahinya, mengandung anak darinya, menuntaskan seribu malam dengannya, dan menunggu masa tua hanya berdua dengan lelakinya saja.
Tak akan itu mengganggumu.
Hal kemudian yang menghanguskan ketabahanmu adalah ketia dia kian jarang mengirimimu pesan singkat, lebih-lebih memecah tawanya di ujung telepon. Kian jarang, hingga tak pernah sama sekali.
Jika ada yang kemudian memberangus rasa berperimu adalah ketika dia tak lagi menganggap penting dari hari lahirmu, sedangkan kau jamin dunia akhirat, dia tak mungkin lupa itu. Tanggal lahirmu sama dengan ulang tahun ibunya.
Pada urutan setelahnya, dia tak lagi mengucapimu selamat pada hari raya. Biarpun itu dalam susunan kata paling klise se-Nusantara, atau hasil forward dari pesan klise berantai kawan-kawannya.
Engkau telah tercerabut dalam hidupnya. Sampai ke akar-akarnya ternyata. Dia merajammu, mengapa tidak kau lakukan sebaliknya? Kau tahu? Setelah kau lakukan semua itu; membakar surat-suratnya, menghapus nomor teleponnya, mendelete pertemanan facebook dengannya, membersihkan kantung pesan yang berisi SMS-SMS mendayu-dayu darinya, tetap saja dia merasa dunia damai tanpa perang dan kelaparan. Dia tak mendatangimu, meski hanya dengan receh rupiah untuk tariff sekali pesan paling murah.

Silahkan dilanjutkan sendiri membaca ceritanya. Hehe :p
Ini sedikit cuplikan cerita pada buku Tasaro GK, Tetap Saja Kusebut (Dia) Cinta-Separuh Mati. 


Komentar

Postingan Populer