Menjadi Pasien Tati

Aku bersyukur punya sahabat yang masih mengingatku dengan segala kebaikan dan keburukan dalam diriku. Mengenalku tanpa aku menyadarinya. 

Selasa, 24 September 2013, Tati menjemputku di rumah kakak. Tati adalah temanku, sahabatku, tetangga kamar dari maba sewaktu di kos Sumbersari. Ada yang berbeda? Mungkin iya, tapi aku tak menyadarinya. Tapi tetap aja, dia suka banget manja padaku. Padahal aku lebih kecil, lebih imut dari dia. UUhh,, dasar!! -___-
Heeii,, Tati juga adalah orang yang merawatku ketika aku sedang sakit gigi. heheh. Makasih Tati.. :)

Tati adalah salah satu mahasiswa PDG UB. Dia sudah sarjana kedokteran gigi sebulan yang lalu. Dia begitu cerewet masalah kesehatan padaku, yah apalagi masalah gigi. Secara aku nakal, suka permen dan makanan yang manis-manis gitu sedari kecil. Jadi banyak gigiku yang rusak. Aku masih ingat ketika dulu gigiku sakit karena berlubang hingga akhirnya di cabut. Huhu. Sakit sekali rasanya. tati ketawa aja saat aku cerita mengenai proses pencabutan gigiku. Bayangkan saja, selama 1 jam lebih pak dokternya mencabut gigiku hanya berhasil separuhnya. Giginya patah. Separuh lagi masih tertanam di gusiku. Gigi mati. Katanya Tati harus di cabut juga daripada nantinya malah bikin sakit. huhu.
Yang jelas hari itu aku ndak mau cabut gigi. Aku mau tambal gigi aja.
So, kemarin aku menjadi pasiennya Tati. Dia sekarang lagi magang untuk menyempurnakan gelar dokter giginya. Karena gigiku berlubang, jadi bakal di tambal oleh dia. Baiklah, daripada aku kesakitan tiap kali makan. :D
Sambil menunggu Tati yang sedang mempersiapkan alat dan tempatnya, aku potret-potret beberapa sudut bagian Klinik UB (tidak seperti rumah sakit :D).

gedung yang sudah jadi. diambil dari tempat parkir
mencoba frame yang lain
calon rumah sakit UB tapi belum selesai sampai saat ini. Tuh gedung sebelahnya belum jadi
panas ya.. terik sekali. tak ada pepohonan. ada sih ilalang di sebelah trotoar tapi ga keren aku motonya >.<
ruang tunggu
jendela lebar-lebar calon rumahku juga :D
shadow
ntah kenapa, aku jatuh cinta dengan jendela kaca seperti ini. bebas memandang keluar.
narsis dulu :p
heii, gunung itu, kangen sekali... :)
aku menyebutnya kursi operasi, hmm,, aku sedikit pobia dengannya. -__-
si Tati, narsis juga kan.. :p
peralatan yang akan dimasukkan ke dalam mulutku kecuali kaca :D Kamu tahu, rasanya ngilu sekali.. 
aktivitas sarjana dokter gigi yang lainnya. mereka sedang merawat pasien masing-masing
kalau tidak salah, pasiennya anak sma :D
sibuk ya.. serius ini, ga pake main2 untuk kesehatan :)
aku suka dengan adanya mbak yang lagi jalan itu :)
aku suka BG langit itu.. cantik dan semakin dekat denganNya
gedung yang selesai dan yang belum. 
Ah, perjalanan ini belum usai. Dua minggu lagi aku harus balik kesana. Oke lah. :D
Tetep jaga kesehatan gigi ya kawand. Karena sakit gigi itu lebih sakit dari apapun. Gak nafsu makan, badan panas dingin dan emosi terus bawaannya.

Saat Tati bilang "Kamu ga mau dirawat giginya, gimana nanti ngerawat anakmu?" Aku jawab, "Gigiku memang banyak yang rusak Tati, tapi bukan berarti anakku harus sama kayak aku. Dia nanti harus terbiasa menjaga kesehatan giginya dari kecil, konsultasi dengan dokter gigi biar ga sama kayak ibunya." 
Karena setiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Mendapatkan yang lebih baik dan lebih layak dari orang tuanya. Menjadi yang jauh jauh lebih baik dari orang tuanya. :D

Kepada Ibu, permintaan pertamamu jika nanti aku sudah bekerja, pasti aku  penuhi. Doakan anakmu ini, Bu.. ^^

Komentar

Postingan Populer